Senja kian menua bersama sisa jingganya
Barangkali sebentar lagi kelam menikam rindu
Sedangkan di sini aku masih mengeja luka yang kau tinggalkan
Tak aku hiraukan betapa purnama yang terlewati tanpamu
Kadang aku melangkah diantara bilah-bilah hati yang patah
Kadang aku harus diam pada jedah tak berdawai
Sementara rembulan kembali sesabit berjuntai di dada langit
Adakah kau simpan sebaik kenangan usang dalam lipatan kecuranganmu
Yang aksaranya kugoreskan dengan tinta air mata
Apabila masih ada kau ejakan kalimatnya satu persatu saat waktu telah hinggap diufuk jiwa
Malam kian terasa sunyi hanya pada hembusan nafas berat senantiasa membujuk hati untuk tetap melangkah walau dalam pekat gulita
Sedangkan pelita itu sudah lama kau padamkan
Padahal aku tetap berharap dia tetap menyala sepanjang masa, dan aku melangkahkan kakiku di setapak jalan yang pernah kita lewati saat bersenandung tentang mimpi yang tak tergantikan
Tapi kini aku hanyalah selembar kertas yang piluh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar