Kamis, 12 Mei 2022

Senja

Senja kian menua bersama sisa jingganya

Barangkali sebentar lagi kelam menikam rindu

Sedangkan di sini aku masih mengeja luka yang kau tinggalkan

Tak aku hiraukan betapa purnama yang terlewati tanpamu

Kadang aku melangkah diantara bilah-bilah hati yang patah

Kadang aku harus diam pada jedah tak berdawai

Sementara rembulan kembali sesabit berjuntai di dada langit

Adakah kau simpan sebaik kenangan usang dalam lipatan kecuranganmu

Yang aksaranya kugoreskan dengan tinta air mata

Apabila masih ada kau ejakan kalimatnya satu persatu saat waktu telah hinggap diufuk jiwa

Malam kian terasa sunyi hanya pada hembusan nafas berat senantiasa membujuk hati untuk tetap melangkah walau dalam pekat gulita

Sedangkan pelita itu sudah lama kau padamkan 

Padahal aku tetap berharap dia tetap menyala sepanjang masa, dan aku melangkahkan kakiku di setapak jalan yang pernah kita lewati saat bersenandung tentang mimpi yang tak tergantikan

Tapi kini aku hanyalah selembar kertas yang piluh


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Titik Temu